“Kalau masyarakat bisa memilah dan mengelola dari rumah, angka pengurangan bisa signifikan. Kita juga didorong Undang-Undang untuk menekan minimal 30% sampah dari sumber, dan ini bagian dari jalan ke arah sana,” kata Mustain.
Taman edukasi yang diresmikan hari ini juga dirancang untuk pembelajaran siswa-siswi secara bergiliran oleh Dinas Pendidikan. Di taman tersebut, mereka akan belajar praktik memilah sampah, budidaya maggot, serta mengenal potensi ekonomi dari sampah.
DLH juga mengungkapkan progres pembangunan infrastruktur pengelolaan akhir, termasuk PLTSA (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang ditargetkan beroperasi Oktober 2026 dengan kapasitas 1.000 ton per hari. Selain itu, Palembang juga tengah menjadi nominasi penerima hibah TPS3R dari Kemendagri untuk pengelolaan tambahan 300 ton sampah per hari.
Jika seluruh rencana berjalan baik, maka kapasitas pengolahan akhir Palembang bisa mencapai 1.300 ton per hari, sehingga ketergantungan terhadap TPA bisa dikurangi secara signifikan.
“Bahkan lahan TPA Sukawinatan seluas 20 hektare bisa kita tambang kembali, dan dialihfungsikan jadi lahan produktif. Nilai asetnya bisa mencapai Rp600 miliar,” jelas Mustain.
Namun demikian, Mustain juga menyoroti keterbatasan armada angkut sampah saat ini. Dari kebutuhan ideal 225 unit, DLH baru memiliki 146 armada aktif, ditambah 3 unit baru.
“Itulah kenapa banyak mobil sampah yang masih beroperasi meski kondisinya memprihatinkan. Karena mereka tetap harus mengangkut sampah. Ini bagian dari tanggung jawab,” ujarnya.
Untuk mendukung bank-bank sampah, Pemkot juga memberikan bantuan bentor sebagai kendaraan operasional yang diharapkan menjadi stimulan agar operasional bank sampah tetap berjalan.**
Halaman : 1 2










