Di sisi lain, Ketua Umum BKMT Pusat, Syifa Fauzia, mengatakan bahwa Sumsel bukanlah daerah yang asing baginya karena banyak anggota keluarganya yang berasal dari provinsi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa BKMT didirikan pada 1 Januari 1981 oleh 731 majelis taklim yang ingin bersatu dalam sebuah organisasi perempuan muslim.
“Peran BKMT semakin berkembang, tidak hanya dalam dakwah, tetapi juga di berbagai bidang lainnya. BKMT adalah organisasi mandiri, tidak terikat dengan partai politik mana pun, dan didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas umat. Saat ini, BKMT telah hadir di hampir seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.
Syifa berharap keberadaan BKMT di Sumsel dapat menjadi motivasi bagi para pengurus dalam membangun komunitas mereka.
“BKMT seharusnya memegang nilai-nilai seperti semangat, loyalitas, dan komitmen. Saat ini, secara demografis, mayoritas anggota BKMT berusia di atas 55 tahun. Namun, saya yakin BKMT Sumsel akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya.
Ketua BKMT Sumsel, Halifah, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa Musyawarah Wilayah ke-6 yang dilaksanakan pada 26 April lalu telah memberikan amanah kepadanya untuk kembali memimpin organisasi tersebut.
“Amanah ini adalah sebuah kehormatan dan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan baik,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa BKMT Sumsel telah hadir di 14 kabupaten/kota hingga level kecamatan.
Ia berkomitmen untuk membangun kolaborasi dengan berbagai majelis taklim dan menjalin kerjasama dengan organisasi perempuan lainnya.
Dalam acara tersebut, hadir juga anggota DPD RI dr Ratu Tenny Leriva HD, bupati/wali kota se-Sumsel, pengurus pusat BKMT, serta para ketua BKMT se-Sumsel.**
Halaman : 1 2










